https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/issue/feedProceedings Borneo Islamic International Conference eISSN 2948-50452026-06-21T23:53:03+00:00Editor-in-Chiefmajmuah18@gmail.comOpen Journal SystemsKonferensi Antarabangsa Islam Borneohttps://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/996P001 EVALUATION OF FRESHWATER LOBSTER (Cherax quadricarinatus) SHELLS AS A GREEN BIO-FUNGICIDE AGAINST Fusarium sp.2026-06-09T07:48:38+00:00HENDRY JOSEPHhendry@uitm.edu.my<p><strong><em>Fusarium spp</em>. is a highly destructive soil-borne pathogen responsible for vascular wilt in major economic crops globally. Currently, the mitigation of this pathogen relies heavily on hazardous synthetic fungicides, which pose severe risks to environmental and public health. Concurrently, the rapidly expanding aquaculture industry generates massive quantities of underutilized crustacean shell waste. This study aimed at extracting chitosan from freshwater lobster (<em>Cherax quadricarinatus</em>) shells and thoroughly evaluate its potential as a sustainable bio-fungicide against <em>Fusarium sp.</em> The chitosan was synthesized via a sequential chemical process of demineralization, deproteinization, and deacetylation. Comprehensive characterization involved solubility testing and acid-base titration. Antifungal efficacy was subsequently assessed <em>in vitro</em> utilizing Poisoned Food (direct contact) and Well Diffusion at formulated concentrations ranging from 0.5% to 2.0%, compared against both negative and positive (Mancozeb) controls. Results indicated the highly successful extraction of quality chitosan, featuring an exceptional Degree of Deacetylation (DD) of 96.6%, confirming a dense presence of active amino groups. In the Poisoned Food assay, the 2.0% chitosan treatment exhibited profound, dose-dependent growth inhibition, drastically reducing the fungal radial diameter to 16.00 ± 1.73 mm (a 74.6% inhibition rate) compared to the control (63.00 ± 2.65 mm). Statistical analysis (ANOVA, <em>p</em> < 0.05) confirmed there was no significant difference in efficacy between the 2.0% bio-fungicide and the commercial synthetic standard. While its activity in diffusion assays was constrained by the polymer’s high molecular weight, the overarching findings establish <em>Cherax quadricarinatus</em> shells as a highly viable, sustainable source of potent antifungal chitosan. </strong></p>2026-06-09T07:34:17+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/997P002 Spiritual Preneurship of Madura Migrant Women: Household-Based Economic Resilience Innovation in the Age of Artificial Intelligence2026-06-09T07:48:39+00:00Saiful hadi hadisaifulhadi@uinmadura.ac.idMoh. Hafid Effendyeffendyhafid@uinmadura.ac.idMuhsyi Muhsyimuhsi@uinmadura.ac.idMoh Wardidr.mohwardi@uim.ac.idAang Kisnu Dharmawanak.darmawan@gmail.comMohammad Firdausfirdausmohammad404@gmail.com<p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>The phenomenon of migration of Madurese women has long been a pillar of the household economy, but it retains the complexity between the workload and the typical spiritual wealth of capital. The presence of the era of artificial intelligence adds a new dimension: migrant women are required to adapt to the latest technology without giving up their religiosity and local wisdom, so an integrated study of this phenomenon is urgent. This research unravels the spiritual practice of preneurship of Madura migrant women as a household-based economic resilience innovation in the midst of AI-based digitalization. The approach used is qualitative with a reflective phenomenology-ethnographic design through a collective case study design. Primary data were obtained from 16 participants—retired and active migrant women in Pamekasan, Sumenep, Sampang, and Bangkalan—through semi-structured in-depth interviews, engaged observations, business digital footprint tracing, and focus group discussions. Secondary data was collected from business books, BP2MI documents, and reputable academic literature. The determination of participants was purposively pursued with the technique of maximum variation until the data was saturated. The analysis combines the interactive models of Miles, Huberman, and Saldaña with Interpretative Phenomenological Analysis, interpreted through the framework of maqāṣid al-syarī'ah, especially the principle of ḥifẓ al-māl. Validity is guaranteed through source triangulation, member checking, and thick descriptions. The results of the research reveal three main conclusions. First, spiritual preneurship is manifested through a combination of commercial dhikr, production alms, and barokah nuanced contracts as productive social-spiritual capital. Second, AI technologies—commercial chatbots, generative AI marketing, and financial applications—are selectively absorbed through religious domestication mechanisms. Third, the combination of spiritual dimensions and AI gives birth to an adaptive economic resilience model that strengthens the household as a production unit as well as a space for safeguarding values. These findings enrich the discourse of sharia economics, contemporary gender-migration studies, and migrant women's empowerment policies rooted in Madura's local wisdom.</em></p> <p><strong>Keywords: </strong><em>spiritual preneurship</em>;<em> Madura migrant women; household economic resilience; artificial intelligence; maqāṣid al-syarī'ah</em></p>2026-06-09T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/999P003 Tradisi Piduduk sebagai akulturasi islam dan budaya lokal dalam kehidupan masyarakat Banja2026-06-13T13:44:10+00:00Muhamad Arsyadmuhamadarsyadkpi@gmail.com<p>Piduduk adalah salah satu tradisi yang diwariskan oleh masyarakat Banjar dan menjadi cerminan nyata dari pertemuan antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal dalam perjalanan panjang Islamisasi di Kalimantan Selatan. Keunikan tradisi ini terletak pada kemampuannya bertahan hingga era modern, yang mengindikasikan terjadinya proses penyesuaian, tawar-menawar, dan pembaruan makna antara praktik pra-Islam dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Penelitian ini dirancang untuk menelusuri asal-usul kemunculan tradisi Piduduk, menguraikan wujud perpaduan antara Islam dan budaya Banjar yang terkandung di dalamnya, serta menelaah perubahan makna yang berlangsung dari waktu ke waktu. Pendekatan yang digunakan adalah studi pustaka dengan bingkai Sejarah Kebudayaan Islam, yang dianalisis melalui tiga kerangka teori, yakni teori akulturasi budaya, teori sinkretisme antara agama dan budaya, serta teori perubahan nilai. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tradisi Piduduk bersumber dari sistem keyakinan masyarakat Banjar sebelum masuknya Islam, yang kental dengan pengaruh animisme, dinamisme, serta tradisi Hindu-Buddha. Penyebaran Islam melalui Kesultanan Banjar dan kalangan ulama berlangsung dengan cara yang lentur dan tidak konfrontatif, sehingga tradisi lokal tidak dihilangkan secara paksa, melainkan diarahkan menuju pemaknaan baru yang selaras dengan ajaran Islam. Dampaknya, berbagai elemen ritual yang semula terhubung dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib perlahan beralih fungsi menjadi simbol adat, sarana mengungkapkan doa, serta penanda identitas budaya masyarakat Banjar. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa tradisi Piduduk hingga kini masih memantik perdebatan di kalangan ulama mengenai sejauh mana pelestarian budaya lokal dapat diselaraskan dengan ketentuan ajaran Islam. Dengan demikian, tradisi Piduduk dapat dipahami sebagai buah dari perpaduan dan evolusi budaya yang mencerminkan dinamika hubungan antara agama dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Banjar.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> tradisi Piduduk, masyarakat Banjar, akulturasi Islam, budaya Banjar, pergeseran nilai.</p>2026-06-13T13:43:27+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1000P004 Simbolisme dan Religiusitas: Studi Perbandingan Fungsi Rebana pada Masyarakat Melayu dan Pengaruhnya terhadap Identitas Lokal Indonesia2026-06-14T12:39:01+00:00Dian Syahdadiansyahda11@gmail.comDzaliqa Putri Susandjanadiansyahda11@gmail.comMayang Salsabiladiansyahda11@gmail.comDian Syahdadiansyahda11@gmail.com<p class="p1">Rebana merupakan instrumen musik perkusi tradisional yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Melayu di Indonesia sejak proses Islamisasi Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-16. Artikel ini bertujuan menganalisis dimensi simbolisme dan religiusitas rebana, membandingkan fungsinya di berbagai komunitas Melayu, serta mengkaji pengaruhnya terhadap pembentukan identitas lokal Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan dan kajian komparatif lintas budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa rebana bukan sekadar alat musik, melainkan manifestasi spiritual yang menjalankan beragam fungsi ritual mulai dari pengiring zikir dan shalawat, media siklus kehidupan (aqiqah, khitanan, pernikahan), hingga sarana transmisi nilai-nilai pendidikan Islam antargenerasi. Secara simbolik, bentuk bulatnya dimaknai sebagai lambang kesempurnaan dunia, sementara pola permainannya yang kolektif mencerminkan nilai persaudaraan (<em>ukhuwah</em>) dan gotong royong. Perbandingan lintas wilayah memperlihatkan keragaman adaptasi lokal, seperti rapai di Aceh, marawis di Betawi, dan pengiring madihin di Kalimantan Selatan, yang sekaligus menunjukkan fleksibilitas Islam dalam berdialog dengan budaya setempat. Di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, tradisi rebana terbukti memiliki daya tahan budaya yang kuat dan bahkan mengalami revitalisasi di kalangan generasi muda melalui komunitas-komunitas pecinta shalawat. Artikel ini menyimpulkan bahwa rebana berperan strategis sebagai penanda identitas lokal sekaligus perekat integrasi antara nilai-nilai spiritual Islam dan kearifan budaya Nusantara.</p> <p class="p1"><strong>Kata kunci:</strong> Rebana, akulturasi budaya, religiusitas, Islam Nusantara, identitas lokal.</p>2026-06-14T12:39:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1002P005 Akulturasi Nilai-Nilai Islam dalam Seni Pertunjukan Wayang Kulit sebagai Media Dakwah Struktural di Tanah Jawa2026-06-15T14:08:23+00:00Putri Nur Ainipnuraini851@gmail.comVirda Andiniandinivirda08@gmail.comTantri Lestaritaritaritantri@gmail.com<p>Wayang kulit merupakan seni pertunjukan Jawa yang sejak masa Hindu-Buddha berfungsi sebagai media pendidikan moral dan spiritual. Ketika Islam masuk ke Jawa, para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, memilih strategi akulturasi budaya dengan memodifikasi estetika visual dan narasi pewayangan agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses akulturasi tersebut serta peran wayang kulit sebagai instrumen dakwah struktural. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis dan komunikasi dengan landasan Teori Akomodasi Komunikasi Howard Giles. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan estetika wayang dari bentuk realistis menjadi stilistis merupakan respons terhadap prinsip syariat Islam sekaligus pelestarian budaya lokal. Reinterpretasi simbolik, seperti Jamus Kalimasada sebagai representasi kalimat syahadat dan tokoh Punakawan sebagai penyampai nilai sufistik, menjadi jembatan antara Islam dan tradisi Jawa. Selain itu, dukungan Kesultanan Demak menjadikan wayang kulit bukan hanya media kultural, tetapi juga instrumen dakwah struktural yang memiliki legitimasi politik dan jangkauan sosial luas. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah berbasis akulturasi budaya lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan pendekatan konfrontatif.</p>2026-06-15T14:08:22+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1004P006 Akulturasi Islam dan Budaya Bugis2026-06-16T07:13:46+00:00Maulidya Farhanamaulidyafarhana75@gmail.comHasiatun Hasanahhasiatunhasiatunhasanah@gmail.comRayani Rayanirayani179@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji proses akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal masyarakat Bugis, dengan menempatkan konsep Siri’ na Pacce sebagai titik temu antara nilai adat dan prinsip syariat Islam. Masyarakat Bugis telah memiliki sistem nilai yang kuat jauh sebelum masuknya Islam pada abad ke-17, namun kedatangan Islam tidak menghapus identitas lokal tersebut, melainkan mengintegrasikannya dalam bingkai moral yang lebih luas. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan historis deskriptif dan analisis akulturasi budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai inti dalam Siri’ na Pacce seperti getteng (keteguhan/istiqamah), lempu (kejujuran/shidq), sipakatau (saling menghormati), dan mappasanre ri elo na Allah (tawakal) yang memiliki korespondensi langsung dengan prinsip-prinsip akhlak dalam ajaran Islam. Proses akulturasi ini juga tampak nyata dalam tradisi-tradisi seperti Mappacci, Mabbarasanji, dan Suromaca yang memadukan unsur ritual adat Bugis dengan nilai-nilai keislaman. Islam tidak berperan sebagai pengganti budaya Bugis, melainkan sebagai penyempurna sistem moral yang telah ada, sehingga melahirkan identitas Bugis Muslim yang harmonis dan berkelanjutan. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa Islam di Nusantara berkembang melalui pendekatan kultural yang dialogis, bukan konfrontatif.</p>2026-06-16T07:13:46+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1003P007 Islam dan Kebudayaan Lokal: Analisis Tradisi Tabot Bengkulu2026-06-16T13:50:52+00:00Nur Rizha Yulianti Dewinrizhayuliantid@gmail.comGazali Rahmangazalirahman325@gmail.com<p><span style="font-weight: 400;">Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keragaman budaya, suku, bahasa, dan agama. Salah satu daerah yang memiliki kekayaan budaya Islam yang luar biasa adalah Provinsi Bengkulu yang terletak di pesisir barat pulau Sumatera. Di antara berbagai tradisi budaya yang berkembang di Bengkulu, tradisi Tabot dikenal luas sebagai upacara peringatan hari wafatnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam Peristiwa Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H (680 M). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejarah, proses pelaksanaan, makna simbolik, dan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi Tabot. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, yaitu dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan sejarah, perkembangan, dan nilai-nilai Islam dalam tradisi Tabot di Bengkulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Tabot merupakan warisan budaya Islam yang berkembang melalui proses akulturasi antara tradisi Islam yang dibawa oleh komunitas Muslim India dengan budaya lokal Bengkulu. Tradisi ini dilaksanakan melalui serangkaian ritual yang berlangsung selama 1–10 Muharram dan mengandung berbagai makna simbolik yang berkaitan dengan peristiwa syahidnya Husain bin Ali di Karbala. Dari sisi sosial, tabot juga berfungsi sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, menjaga identitas budaya daerah, serta mewariskan nilai-nilai Islam seperti gotong royong, kebersamaan, toleransi, penghormatan terhadap perjuangan, dan rasa syukur. Tradisi ini menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berinteraksi secara harmonis sehingga melahirkan warisan budaya yang tetap relevan dan bernilai bagi masyarakat hingga saat ini.</span></p>2026-06-16T13:50:52+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1005P008 Islamisasi Budaya Lokal Dalam Tradisi Seren Taun Masyarakat Sunda2026-06-16T13:52:13+00:00Desti Fitri Alfiyanifdesti27@gmail.comWindy Dwi Hafizhwindyhafizh@gmail.comAnesya Aulia Hanumanesyaahnm09@gmail.com<p><em>This study aims to examine the structure and process of Islamization of local culture that occurs within the agrarian tradition of Seren Taun among traditional Sundanese society. This study employs a library research method with a historical-cultural approach. As a communal annual rite, Seren Taun was originally deeply rooted in the cosmology of Sunda Wiwitan, centered on the veneration of the mythological figure Nyi Pohaci Sanghyang Asri as the goddess of fertility and rice. Through the culturally adaptive proselytization approach inherited from earlier Islamic scholars such as Wali Songo, Syekh Quro, and Sunan Gunung Djati, this tradition was not abolished but instead underwent a process of profound reconceptualization. The outer structure or physical form of the tradition was preserved as an aesthetic heritage, while its spiritual essence was aligned with the principles of Islamic tawhid. The focus of gratitude was deconstructed and redirected entirely toward Allah SWT (Gusti Nu Maha Suci). This transformation is concretely evidenced through the infiltration of Islamic practices, such as the replacement of mantras with communal dhikr, the recitation of salawat during the ngajayak procession, and the allocation of the rice barn (leuit indung), which adopts the spirit of zakat and sadaqah for social welfare. This study concludes that the preservation of Seren Taun represents a tangible manifestation of historical dialectics that positions Islam as rahmatan lil 'alamin, wherein the purity of tawhid can coexist peacefully and harmoniously with the authentic identity of Sundanese culture. This study contributes to strengthening the understanding that cultural da'wah is a relevant and effective approach in maintaining harmony between Islam and local wisdom in Indonesia.</em></p>2026-06-16T13:52:13+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1006P009 Ritual Manyanggar Banua dalam Perspektif Akidah Islam di Komunitas Dayak Muslim2026-06-16T13:55:24+00:00Ahmad Faturrahmanahmadfaturrahman111@gmail.comNauval Rizky Ibrahimnauvalrizkyibrahim@gmail.comHafudz Rifky Nurfathanhrifkynf@gmail.com<p>Ritual Manyanggar Banua merupakan tradisi adat Dayak yang masih dipraktikkan oleh sebagian komunitas Dayak Muslim di Kalimantan Tengah, sehingga menimbulkan pergulatan antara identitas keislaman dan identitas kedayakan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosesi ritual Manyanggar Banua, menganalisisnya dari perspektif akidah Islam, serta memahami bentuk negosiasi identitas budaya dan agama pada komunitas Dayak Muslim. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, bersumber dari buku, jurnal ilmiah, dan laporan penelitian terdahulu, yang dianalisis melalui analisis isi dan pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Manyanggar Banua berakar pada kepercayaan Kaharingan dan mengandung elemen-elemen yang berpotensi bersinggungan dengan prinsip tauhid, terutama terkait keyakinan kepada roh gaib, penggunaan sesajen, dan pembacaan mantra animistis. Namun, sejumlah unsur seperti tujuan keselamatan kampung, nilai gotong royong, dan doa kolektif dapat diselaraskan dengan Islam melalui islamisasi makna. Komunitas Dayak Muslim menunjukkan tiga pola negosiasi identitas, yaitu pola akomodatif, selektif, dan penolakan total, yang dipengaruhi oleh pemahaman keagamaan, otoritas ulama lokal, dan tokoh adat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa negosiasi antara identitas Islam dan identitas Dayak merupakan proses dinamis yang membutuhkan dialog konstruktif antara tokoh agama dan tokoh adat guna menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kemurnian akidah.</p> <p>Kata kunci: Manyanggar Banua, akidah Islam, Dayak Muslim, sinkretisme, negosiasi identitas</p>2026-06-16T13:55:23+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1007P010 Islam di Tengah Semesta Hindu: Toleransi, Adaptasi, dan Identitas Muslim dalam Kebudayaan Bali : Studi Kasus Komunitas Muslim Pegayaman, Buleleng2026-06-16T14:01:45+00:00Aditya Tri Prasetyaadtyatp2414@gmail.com<p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Penelitian ini mengkaji fenomena harmoni antaragama yang terjalin antara komunitas Muslim Pegayaman dan masyarakat Hindu di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Komunitas Muslim Pegayaman, yang telah ada sejak abad ke-16 sebagai keturunan prajurit Kerajaan Blambangan, merupakan satu-satunya desa bermayoritas Muslim di Bali yang berhasil membangun identitas hibrid: tetap menjalankan ajaran Islam secara teguh sementara mengadopsi unsur-unsur budaya Bali seperti bahasa, sistem penamaan berbasis urutan kelahiran, dan berbagai tradisi lokal yang telah diselaraskan dengan nilai syariat. Kajian ini menelusuri bentuk-bentuk toleransi beragama, adaptasi budaya (seperti tradisi Ngejot, sistem irigasi Subak, dan arsitektur akulturatif), serta konstruksi identitas yang terbentuk melalui interaksi sosial jangka panjang antara kedua komunitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerukunan di Pegayaman dilandasi oleh filosofi Menyama Braya (persaudaraan), kepercayaan timbal balik, dan modal sosial yang kuat, meskipun pasca reformasi muncul tantangan baru berupa wacana Ajeg Bali yang berpotensi menggeser dinamika identitas. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas agama dan identitas etnis tidak bersifat eksklusif, melainkan dapat berjalan paralel dan saling memperkaya dalam kehidupan multikultural.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Islam Pegayaman, toleransi beragama, adaptasi budaya, identitas Muslim, Hindu-Bali, multikulturalisme</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study examines the phenomenon of interreligious harmony between the Muslim community of Pegayaman and the Hindu population in Sukasada District, Buleleng Regency, Bali. The Pegayaman Muslim community, which has existed since the 16th century as descendants of Blambangan Kingdom soldiers, represents the only Muslim-majority village in Bali that has successfully built a hybrid identity, firmly upholding Islamic teachings while adopting elements of Balinese culture such as language, birth-order-based naming systems, and local traditions adapted to align with Islamic values. This study explores forms of religious tolerance, cultural adaptation (such as the Ngejot tradition, the Subak irrigation system, and acculturated architecture), and identity construction shaped through long-term social interaction between the two communities. Findings indicate that social harmony in Pegayaman is grounded in the philosophy of Menyama Braya (brotherhood), mutual trust, and strong social capital, although new challenges have emerged in the post-reform era through the Ajeg Bali discourse, which carries the potential to shift identity dynamics. This study affirms that religious and ethnic identity are not mutually exclusive but can develop in parallel, mutually enriching one another within a multicultural life.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Pegayaman Islam, religious tolerance, cultural adaptation, Muslim identity, Hindu-Bali, multiculturalism</em></p> <p> </p>2026-06-16T14:01:45+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1009P011 Akulturasi dan Dialektika Sejarah Islam dengan Budaya Lokal Masyarakat Timor2026-06-17T02:31:27+00:00Fatih Nurramadhanfatihnurr14@gmail.comAhmad Haikal Jautijautihaikalahmad@gmail.comAndry Dwi Priyantoandrydwip1404@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif sejarah masuknya Islam serta dinamika interaksinya dengan kebudayaan lokal di Pulau Timor dalam bingkai akademik Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Budaya Lokal. Menggunakan pendekatan historis kontekstual, studi ini membedah bagaimana Islam merembes masuk ke wilayah Timor sejak abad ke-15 melalui jaringan perdagangan maritim komoditas kayu cendana yang digerakkan oleh para pedagang dan ulama dari berbagai penjuru Nusantara seperti Solor, Ternate, Bugis, Makassar, serta Arab (Hadramaut). Dalam lintasan sejarahnya, perkembangan Islam di wilayah ini mengalami pasang surut akibat tantangan internal berupa kuatnya sistem kepercayaan lokal serta tekanan eksternal dari agresivitas kolonialisme Portugis. Melalui kacamata SKI dan Budaya Lokal, penelitian ini menganalisis proses akulturasi yang terjadi antara nilai-nilai keislaman dengan sistem karakteristik budaya Timor yang sarat dengan tradisi patrilineal serta sisa-sisa animisme dan dinamisme. Islam di Timor terbukti tidak hadir secara konfrontatif, melainkan adaptif dan dialogis. Hal ini tercermin nyata dalam berbagai ekspresi Islam lokal, seperti integrasi tradisi penyerahan <em>belis</em> (mas kawin adat) yang diselaraskan dengan syariat ijab kabul Islam, serta penggunaan doa-doa Islami dalam prosesi lingkaran hidup tradisional masyarakat tanpa menghilangkan tatanan adat yang mengakar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manifestasi Islam di Timor merupakan bukti otentik dari kelenturan Islam Nusantara yang mampu menciptakan harmoni sosial dan kultural, di mana syariat Islam dan kearifan lokal saling mengukuhkan identitas masyarakat Muslim Timor secara damai.</p>2026-06-17T02:31:27+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1008P012 Studi Interaksionisme Simbolik dalam Tradisi Margondang pada Masyarakat Muslim Batak Angkola dan Mandailing2026-06-17T02:34:09+00:00Ahmad Amri Rasyad Rabbaniahmadamrirasyadrabbani@gmail.comMuhammad Syafiq Sholahuddinmsyafiq.s.0897@gmail.comAdelia Pertiwi Hasibuanadeliapertiwi104@gmail.com<p>Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman budaya yang tinggi, di mana Islam hadir melalui proses akulturasi dinamis dengan tradisi lokal. Salah satu fenomena menarik adalah keberlangsungan tradisi Margondang pada masyarakat Muslim Batak Angkola dan Mandailing yang tetap dipertahankan meski berakar dari kepercayaan pra-Islam. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat tersebut memaknai, mempertahankan, serta menegosiasikan tradisi Margondang di tengah nilai-nilai keislaman. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan pisau analisis teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer, penelitian ini mengeksplorasi proses pembentukan makna melalui interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan Margondang dimungkinkan melalui negosiasi makna yang selektif, di mana unsur adat yang bertentangan dengan syariat dimodifikasi, sementara nilai estetik dan sosial dipertahankan. Hal ini mengimplikasikan bahwa identitas Muslim Batak merupakan identitas ganda yang komplementer, mencerminkan fleksibilitas Islam dalam merespons keragaman budaya tanpa melemahkan substansi akidah. Integrasi ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman mendalam mengenai pola islamisasi dan koeksistensi harmonis antara agama dan budaya di Indonesia.</p>2026-06-17T02:34:09+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1010P013 ISLAM DAN KEBUDAYAAN MADURA: TRADISI ROKAT TASE' SEBAGAI WUJUD AKULTURASI AGAMA DAN BUDAYA2026-06-17T02:36:05+00:00Sayyid Husin Bahasyimshbbahasyim@gmail.com<p>The Rokat Tase' tradition represents one of the most visible manifestations of the acculturation process between Islamic values and the local culture of the Madurese people. As a sea thanksgiving ritual passed down through generations, Rokat Tase' functions not only as a spiritual expression of the fishing community but also as a social space that reinforces solidarity among its members. This article aims to examine how Islam and Madurese culture meet and merge within the practice of Rokat Tase', while analyzing the acculturation process that occurs without diminishing the identity of each cultural element. Employing a qualitative approach and the perspective of cultural anthropology, this study finds that Rokat Tase' is a product of harmonious acculturation, in which Islamic values of monotheism, prayer, and gratitude are integrated into the local customary rites of Madura. This process reflects Islam's flexibility in engaging with local traditions and demonstrates that Madurese culture possesses a strong adaptive capacity toward religious influence. The findings suggest that Rokat Tase' is not merely a cultural heritage, but a living symbol of the successful, peaceful, and sustainable acculturation of religion and culture within Madurese society.</p> <p><strong>Keywords<em>:</em></strong><em> Rokat Tase', acculturation, Islam, Madurese culture, local tradition, fishing ritual.</em></p>2026-06-17T02:36:05+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1012P014 AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI PERNIKAHAN MASYARAKAT FLORES2026-06-17T13:45:31+00:00Taufik Muhamadtaufik.muh.12.12@gmail.commaimunah karimahmaimunah.karimah.55@gmail.comMuhammad farhat fananitaufik.muh.12.12@gmail.com<p>This study examines the acculturation process between Islamic values and local cultural traditions in the customary wedding ceremonies of the Flores community, East Nusa Tenggara. As an archipelagic nation of remarkable diversity, Indonesia serves as a meeting ground between Islamic teachings and indigenous wisdom that predates the arrival of Islam. Flores, with its ethnic diversity including the Manggarai, Ngada, Ende-Lio, Sikka, and Lamaholot peoples, provides a highly relevant site for studying the negotiation dynamics between Islamic law and local customs, particularly in wedding practices. This study aims to understand the concept of cultural acculturation from an Islamic perspective, to describe the customary wedding traditions of Flores, and to analyze the process of Islamic acculturation within those traditions. The study employs a library research method with a descriptive-qualitative analytical approach, drawing on academic sources, scientific journals, and prior field studies. The findings indicate that Islam accommodates local traditions through the principles of <em>'Urf</em> and the legal maxim <em>al-'adah muhakkamah</em>, allowing the <em>belis</em> tradition — a customary gift of livestock, elephant tusks, or woven cloth from the groom's family to the bride's family — to be practiced as long as it does not contradict the fundamental principles of Islamic law. This acculturation process is adaptive and theologically grounded, not arbitrary syncretism. Nevertheless, social tensions persist due to the heavy economic burden of <em>belis</em>, which has given rise to the phenomenon of elopement in some communities, reflecting the ongoing tension between religious norms, customary values, and economic realities. This study concludes that harmony between Islam and local traditions in Flores can be achieved through a balanced, tolerant, and just approach, consistent with the inclusive and contextual character of Nusantara Islam.</p>2026-06-17T13:45:31+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1013P015 DIGITAL TRANSFORMATION OF ISLAMIC DEBT MARKETS: A NARRATIVE REVIEW OF TOKENISED SUKUK IN MALAYSIA2026-06-18T15:19:10+00:00Mohd Rozie bin Mohd Damitmohdrozie@uitm.edu.myRozita @ Uji Mohammedrozlim97@uitm.edu.myJacqualine Koh Siew Len Stephenjacqu807@uitm.edu.myDewi Tajuddindewi400@uitm.edu.myJasmine Davidjuspi330@uitm.edu.my<p>Malaysia is heading towards a major digital revolution with the implementation of tokenised sukuk, often known as smart sukuk. The country is a key player in the global Islamic capital market. Blockchain technology has the potential to significantly reduce costs of issuance and provide access to markets for retail investors and Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). However, integration of modern technologies into Islamic finance confronts major challenges due to complex theological, legal and structural problems. The study uses thematic analysis to explain a narrative appraisal of trends, difficulties, strategies and possible research paths of tokenised sukuk in Malaysia. The findings demonstrate that government-funded pilot initiatives exhibit institutional preparedness. Smart contract programming has an irreversible quality that conflicts with the adaptability needed by Islamic jurisprudence. Furthermore, Malaysia’s dual legal system, the lack of common ESG definitions, and inadequate cross-border enforcement continue to prevent market integration. This paper suggests combining automated execution on the blockchain with human Shariah oversight off-chain using “hybrid smart contracts” and Regulatory Technology (RegTech). The research suggests that the research should move from qualitative analysis to quantitative economic models such as Autoregressive Distributed Lag (ARDL) and Value-at-Risk (VaR) to examine the real economic impact and default risk of digital Islamic assets. This is an evident gap in the current field of study.</p>2026-06-18T15:19:10+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1014P016 Islam di Tengah Semesta Hindu: Toleransi, Adaptasi, dan Identitas Muslim dalam Kebudayaan Bali : Studi Kasus Komunitas Muslim Pegayaman, Buleleng2026-06-21T23:51:12+00:00Aditya Tri Prasetyaadtyatp2414@gmail.comDandy Ahmaddandyahmd1608@gmail.comRizky Wijanarkorizkywijanarko12345@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji fenomena harmoni antaragama yang terjalin antara komunitas Muslim Pegayaman dan masyarakat Hindu di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Komunitas Muslim Pegayaman, yang telah ada sejak abad ke-16 sebagai keturunan prajurit Kerajaan Blambangan, merupakan satu-satunya desa bermayoritas Muslim di Bali yang berhasil membangun identitas hibrid: tetap menjalankan ajaran Islam secara teguh sementara mengadopsi unsur-unsur budaya Bali seperti bahasa, sistem penamaan berbasis urutan kelahiran, dan berbagai tradisi lokal yang telah diselaraskan dengan nilai syariat. Kajian ini menelusuri bentuk-bentuk toleransi beragama, adaptasi budaya (seperti tradisi Ngejot, sistem irigasi Subak, dan arsitektur akulturatif), serta konstruksi identitas yang terbentuk melalui interaksi sosial jangka panjang antara kedua komunitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerukunan di Pegayaman dilandasi oleh filosofi Menyama Braya (persaudaraan), kepercayaan timbal balik, dan modal sosial yang kuat, meskipun pasca reformasi muncul tantangan baru berupa wacana Ajeg Bali yang berpotensi menggeser dinamika identitas. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas agama dan identitas etnis tidak bersifat eksklusif, melainkan dapat berjalan paralel dan saling memperkaya dalam kehidupan multikultural.</p>2026-06-21T23:51:12+00:00##submission.copyrightStatement##https://majmuah.com/journal/index.php/kaib1/article/view/1017P017 Tradisi Piduduk sebagai Akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam Kehidupan Masyarakat Banjar2026-06-21T23:53:03+00:00Almayda .amaysyh@gmail.comMuhamad Arsyadmuhamadarsyadkpi@gmail.comHusnul Khatimahhusnulkhatimah1145@gmail.com<p>Piduduk adalah salah satu tradisi yang diwariskan oleh masyarakat Banjar dan menjadi cerminan nyata dari pertemuan antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal dalam perjalanan panjang Islamisasi di Kalimantan Selatan. Keunikan tradisi ini terletak pada kemampuannya bertahan hingga era modern, yang mengindikasikan terjadinya proses penyesuaian, tawar-menawar, dan pembaruan makna antara praktik pra-Islam dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Penelitian ini dirancang untuk menelusuri asal-usul kemunculan tradisi Piduduk, menguraikan wujud perpaduan antara Islam dan budaya Banjar yang terkandung di dalamnya, serta menelaah perubahan makna yang berlangsung dari waktu ke waktu. Pendekatan yang digunakan adalah studi pustaka dengan bingkai Sejarah Kebudayaan Islam, yang dianalisis melalui tiga kerangka teori, yakni teori akulturasi budaya, teori sinkretisme antara agama dan budaya, serta teori perubahan nilai. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tradisi Piduduk bersumber dari sistem keyakinan masyarakat Banjar sebelum masuknya Islam, yang kental dengan pengaruh animisme, dinamisme, serta tradisi Hindu-Buddha. Penyebaran Islam melalui Kesultanan Banjar dan kalangan ulama berlangsung dengan cara yang lentur dan tidak konfrontatif, sehingga tradisi lokal tidak dihilangkan secara paksa, melainkan diarahkan menuju pemaknaan baru yang selaras dengan ajaran Islam. Dampaknya, berbagai elemen ritual yang semula terhubung dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib perlahan beralih fungsi menjadi simbol adat, sarana mengungkapkan doa, serta penanda identitas budaya masyarakat Banjar. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa tradisi Piduduk hingga kini masih memantik perdebatan di kalangan ulama mengenai sejauh mana pelestarian budaya lokal dapat diselaraskan dengan ketentuan ajaran Islam. Dengan demikian, tradisi Piduduk dapat dipahami sebagai buah dari perpaduan dan evolusi budaya yang mencerminkan dinamika hubungan antara agama dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Banjar.</p>2026-06-21T23:53:03+00:00##submission.copyrightStatement##