P027 ULAMA KERAJAAN MEMPAWAH HABIB HUSIN AL-QADRI:
RIWAYAT HIDUP, PENGEMBARAAN, DAKWAH, DAN OTORITASNYA
Abstract
Al-Sayyid Al-Syarif Al-Habib Husin bin Al-Habib Ahmad Al-Qadri (1706-1770 M) adalah ulama Tarim, Yaman dan menjadi mufti di Kerajaan Matan dan Mempawah. Habib Husin adalah ayah dari pendiri kerajaan Pontianak Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri. Meskipun dikenal sebagai ulama mufti di dua kerajaan, namun belum banyak tulisan yang mengurai riwayat beliau. Kalaupun ada, namun sumbernya tidak dari sumber primer terpercaya. Atas dasar hal tersebut, dengan menggunakan pendekatan filologis historiografis, tulisan ini berupaya menguraikan secara singkat riwayat Habib Husin dari sumber primer berupa manuskrip yang ditulis oleh cucunya sendiri bernama Syarif Ahmad bin Syarif Abdurrahman Al-Qadri. Naskahnya berjudul Bahwa Inilah Fasal Ceriteranya Kedudukan Bangsa Al-Qadri di Mempawah dan Pontianak, ditulis di istana Kadriyah Pontianak tahun 1267 H / 1851 M. Naskah manuskrip ini berisi riwayat hidup Habib Husin dan anaknya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri. Sebagai pelengkap dan perbandingan, juga digunakan beberapa sumber sekunder naskah lokal dan dari penulis Kolonial Belanda. Kajian ini menemukan bahwa naskah manuskrip Syarif Ahmad berisi uraian tentang pengalaman Habib Husin Al-Qadri mencari ilmu, teman berkelana, tempat-tempat yang disinggahi, menjadi Qadi di kerajaan Matan serta akhir hayat dan pengabdiannya sebagai mufti di kerajaan Mempawah. Temuan berikutnya, dengan menggunakan teori otoritas dari Max Weber, maka sebagai ulama, pada sosok Al-Habib Husin Al-Qadri berpadu tiga sumber otoritas sekaligus, yaitu otoritas karismatik, otoritas tradisional, dan otoritas rasional-legal. Dalam konteks kekinian, hadirnya sosok ulama yang memiliki tiga sumber otoritas sekaligus menjadi sangat penting sebagai benteng moralitas religius di tengah arus kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan.