P006 Akulturasi Islam dan Budaya Bugis
Siri’ na Pacce sebagai Jembatan antara Adat dan Syariat
Abstract
Penelitian ini mengkaji proses akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal masyarakat Bugis, dengan menempatkan konsep Siri’ na Pacce sebagai titik temu antara nilai adat dan prinsip syariat Islam. Masyarakat Bugis telah memiliki sistem nilai yang kuat jauh sebelum masuknya Islam pada abad ke-17, namun kedatangan Islam tidak menghapus identitas lokal tersebut, melainkan mengintegrasikannya dalam bingkai moral yang lebih luas. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan historis deskriptif dan analisis akulturasi budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai inti dalam Siri’ na Pacce seperti getteng (keteguhan/istiqamah), lempu (kejujuran/shidq), sipakatau (saling menghormati), dan mappasanre ri elo na Allah (tawakal) yang memiliki korespondensi langsung dengan prinsip-prinsip akhlak dalam ajaran Islam. Proses akulturasi ini juga tampak nyata dalam tradisi-tradisi seperti Mappacci, Mabbarasanji, dan Suromaca yang memadukan unsur ritual adat Bugis dengan nilai-nilai keislaman. Islam tidak berperan sebagai pengganti budaya Bugis, melainkan sebagai penyempurna sistem moral yang telah ada, sehingga melahirkan identitas Bugis Muslim yang harmonis dan berkelanjutan. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa Islam di Nusantara berkembang melalui pendekatan kultural yang dialogis, bukan konfrontatif.